Rakernas III HIPPI 2026 Dorong Kolaborasi, Digitalisasi Perdagangan, dan Kemandirian Pengusaha Nasional Menuju Indonesia 2045.
Jakarta,14-10-2026 – Memasuki usia emas ke-50 tahun, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran pengusaha pribumi dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Peringatan setengah abad organisasi ini menjadi momentum untuk merumuskan langkah nyata dalam mengembangkan UMKM, memperluas akses perdagangan, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III HIPPI Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 HIPPI. Kegiatan berlangsung pada Senin (12/10/2026) di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta, dengan mengusung tema “Konsolidasi Pengusaha Nasional untuk Kedaulatan Ekonomi Menuju Indonesia 2045” dan semangat “Bangkit, Mandiri, Indonesia Banget”.
Novi, Bidang Perdagangan Dewan Pengurus Pusat (DPP) HIPPI, menilai perjalanan lima dekade HIPPI harus menjadi pijakan untuk memperbesar kontribusi organisasi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, keberhasilan organisasi pengusaha tidak hanya diukur dari perjalanan panjangnya, tetapi juga dari manfaat yang mampu diberikan kepada pelaku usaha dan masyarakat luas.
Ia menegaskan, salah satu agenda penting yang perlu terus diperkuat adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama usaha milik pengusaha pribumi. Sektor ini dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas kesempatan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta membangun ketahanan ekonomi dari tingkat lokal hingga nasional.
“Harapannya, melalui momentum 50 tahun HIPPI, kita bisa semakin berperan dalam memajukan perekonomian Indonesia, khususnya dengan mendorong UMKM agar tumbuh, berkembang, dan memiliki daya saing yang lebih baik,” ujar Novi saat diwawancarai awak media.
Menurutnya, dinamika dunia usaha saat ini membutuhkan langkah yang lebih adaptif dan terarah. Tantangan ketenagakerjaan, termasuk pengurangan tenaga kerja dan pemutusan hubungan kerja (PHK), menjadi pengingat bahwa perluasan kesempatan berusaha harus mendapatkan perhatian serius.
Dalam situasi tersebut, UMKM dapat menjadi salah satu penopang penting perekonomian karena membuka ruang bagi masyarakat untuk menciptakan usaha secara mandiri. Dengan pendampingan yang tepat, akses pasar yang memadai, serta dukungan berbagai pihak, pelaku usaha kecil berpeluang mengembangkan bisnis sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Digitalisasi Jadi Kunci Perluasan Pasar UMKM
Selain penguatan kapasitas usaha, Novi menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian dari strategi pengembangan perdagangan. Menurutnya, pelaku UMKM perlu mengikuti perubahan pola transaksi dan pemasaran agar produk yang dihasilkan mampu menjangkau konsumen secara lebih luas.
Media sosial dan berbagai platform perdagangan digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk, membangun identitas usaha, serta menjangkau calon pembeli tanpa terbatas oleh wilayah pemasaran konvensional.
Ia berpandangan bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan tambahan, melainkan salah satu kebutuhan bagi pelaku usaha yang ingin bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.
Novi juga menyinggung keberadaan platform Pasar Digital (PaDi) dan berbagai inisiatif digital lainnya yang berpotensi dimanfaatkan untuk memperluas jaringan perdagangan UMKM.
“Pelaku UMKM, terutama pengusaha pribumi, perlu semakin akrab dengan teknologi. Berbagai platform digital yang tersedia harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperluas pemasaran dan meningkatkan perkembangan usaha,” jelasnya.
Ia berharap digitalisasi tidak berhenti pada aktivitas promosi semata. Lebih dari itu, penggunaan teknologi perlu diikuti dengan peningkatan kualitas produk, pelayanan konsumen, pengelolaan usaha, dan profesionalisme agar UMKM mampu membangun kepercayaan pasar dalam jangka panjang.
Perkuat Sinergi untuk Mendorong Pertumbuhan Usaha
Dalam upaya memperluas dukungan terhadap pelaku usaha, HIPPI juga melihat pentingnya membangun kemitraan dengan lembaga dan instansi yang memiliki perhatian terhadap pengembangan ekonomi masyarakat.
Novi mengungkapkan bahwa peluang kerja sama dengan Pegadaian serta sejumlah pihak lainnya menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam bidang ekonomi dan perdagangan.
Menurutnya, kolaborasi antara organisasi pengusaha, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya dapat membantu menciptakan lingkungan usaha yang lebih mendukung. Kerja sama yang terarah diharapkan mampu membuka akses, memperluas jejaring bisnis, dan memberikan kesempatan lebih besar bagi UMKM untuk meningkatkan skala usahanya.
Ia menilai pengembangan UMKM membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya tanggung jawab pelaku usaha itu sendiri. Dukungan berupa kemitraan, akses pemasaran, penguatan kemampuan bisnis, dan pemanfaatan teknologi perlu berjalan beriringan agar hasilnya dapat dirasakan secara nyata.
Melalui sinergi tersebut, pengusaha pribumi diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan keberlangsungan usahanya, tetapi juga berkembang menjadi bagian penting dalam rantai perdagangan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Tahun Emas HIPPI, Momentum Menghasilkan Langkah Nyata
Peringatan HUT ke-50 HIPPI menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus memperkuat arah perjuangan pengusaha nasional dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
Bagi Novi, semangat “Bangkit, Mandiri, Indonesia Banget” perlu diterjemahkan ke dalam program yang berdampak langsung bagi pelaku usaha. Penguatan UMKM, perluasan jaringan perdagangan, pemanfaatan teknologi digital, dan pembangunan kemitraan strategis merupakan sejumlah langkah yang dinilai penting untuk terus dikembangkan.
Ia berharap Rakernas III HIPPI Tahun 2026 dapat menghasilkan pemikiran dan program kerja yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha, sekaligus memperkuat posisi pengusaha pribumi dalam mendukung kedaulatan ekonomi Indonesia.
Lebih jauh, pengembangan UMKM diharapkan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pelaku usaha, tetapi juga menciptakan efek berantai bagi masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi daerah, dan tumbuhnya peluang usaha baru.
Dengan pengalaman organisasi selama lima dekade, HIPPI diharapkan semakin mampu menjadi wadah konsolidasi pengusaha nasional yang responsif terhadap perubahan zaman serta aktif membangun kerja sama lintas sektor.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Indonesia 2045 membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Pengusaha pribumi dan UMKM memiliki ruang strategis untuk mengambil bagian dalam proses tersebut melalui inovasi, peningkatan kualitas usaha, serta keberanian memanfaatkan peluang baru.
Bagi Novi, kemajuan ekonomi nasional perlu dibangun dari penguatan usaha masyarakat. Dengan UMKM yang semakin mandiri, perdagangan yang semakin terbuka, serta kolaborasi yang semakin kuat, semangat setengah abad HIPPI diharapkan menjadi dorongan nyata bagi terciptanya perekonomian Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya saing menuju 2045.














