BOGOR,30-09-2026— Muncul pembelaan baru dari oknum wartawan yang diduga terlibat pengaturan pendemo bayaran. Ia menyusup di Petisi 26 saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kabupaten Bogor, dan mendadak berdalih bahwa uang dalam koper berwarna cokelat yang dibuka di lokasi demo hanyalah properti teatrikal. Padahal hal itu sama sekali tidak menjawab temuan yang kami sampaikan sebelumnya.
Dua Hal Berbeda — Kami Bicara Pembagian di Dalam Rumah
Perlu ditegaskan kembali secara tegas:
– Uang/properti yang dibuka di depan umum saat demo — itu bukan fokus utama kami.
– Yang kami soroti adalah peristiwa pembagian uang di dalam rumah milik oknum wartawan tersebut, terpisah dari lokasi aksi.
Dalam rekaman yang kami peroleh, saat membagikan uang itu, oknum wartawan tersebut hanya mengenakan jaket hitam terbuka dan memakai celana pendek, tidak berpakaian lengkap — suasana yang sama sekali tidak cocok untuk persiapan pertunjukan atau properti panggung. Di sana terdengar jelas sebutan ongkos perjalanan dan imbalan kehadiran, bukan penjelasan tentang alat peraga atau sandiwara.
Manfaatkan Keresahan untuk Kepentingan Sendiri
Kami sangat menyayangkan aksi yang disusupi oknum tersebut. Alih-alih memperjuangkan aspirasi rakyat, ia justru memanfaatkan situasi dan keresahan warga semata demi kepentingan kelompoknya sendiri. Masyarakat yang turun menyuarakan kebenaran menjadi tercampur dan ternoda oleh rekayasa yang dibuat-buat.
Tantangan Pembuktian di Hadapan Aparat Hukum
Jika benar ia ingin membuktikan bahwa itu hanyalah properti, kami siap menyerahkan seluruh bukti visual kepada pihak Kepolisian atau Kejaksaan. Kami menuntut agar:
1. Bukti rekaman diperiksa secara menyeluruh oleh aparat berwenang
2. Dilakukan pemeriksaan saksi serta jejak keuangan terkait
3. Jika perlu, dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan — apakah isi tas cokelat itu kertas mainan atau uang sungguhan yang dialihkan untuk menggerakkan massa
Kebenaran tidak bisa disembunyikan di balik kata “properti”. Uang yang dibagikan di balik pintu tertutup, kepada orang-orang yang diingatkan jam berkumpul, itu bukan sandiwara — itu rekayasa politik. Kami tetap mengawal kasus ini sampai tuntas.












