Bogor – Perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang digelar meriah di Kecamatan Ciawi menuai sorotan dari sejumlah tokoh masyarakat. Meski mengusung nuansa adat dan budaya Sunda melalui iring-iringan peserta yang mengenakan pakaian tradisional, suasana dinilai kurang sakral karena diwarnai alunan musik band modern dalam pawai tersebut.
Tokoh masyarakat Ciawi, Pirdaus, menilai konsep acara yang mengangkat tema kesundaan seharusnya konsisten menampilkan unsur budaya lokal, termasuk dalam pengiring musik.
“Kalau memang temanya adat Sunda, seharusnya iringan musik juga bernuansa Sunda seperti kacapi, suling, degung atau kesenian tradisional lainnya. Jangan sampai peserta memakai pakaian adat, tetapi musik pengiringnya justru band modern. Ini bertolak belakang dengan semangat pelestarian budaya,” ujar Pirdaus kepada media.
Menurutnya, Hari Jadi Bogor bukan sekadar acara seremonial, melainkan momentum untuk mengangkat nilai sejarah, budaya dan kearifan lokal masyarakat Tatar Sunda. Karena itu, unsur-unsur budaya yang ditampilkan harus benar-benar mencerminkan identitas Bogor dan Sunda secara utuh.
“Kita ingin generasi muda mengenal budaya leluhurnya. Kalau konsepnya sudah budaya Sunda, maka harus totalitas. Jangan sampai budaya hanya dijadikan atribut pakaian, sementara ruh dan nilai seninya hilang,” tegasnya.
Sejumlah tokoh masyarakat Ciawi juga menyampaikan pandangan serupa. Mereka berharap penyelenggaraan HJB ke depan lebih memperhatikan keselarasan antara tema, konsep acara, dan penampilan seni budaya yang ditampilkan.
Diketahui, Hari Jadi Bogor ke-544 tahun 2026 mengusung semangat pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat melalui berbagai rangkaian kegiatan, termasuk helaran budaya yang menjadi salah satu agenda utama peringatan HJB. Puncak perayaan HJB memang identik dengan upacara resmi dan helaran budaya yang menonjolkan kekayaan tradisi daerah.
Para tokoh berharap evaluasi dilakukan agar perayaan HJB tidak hanya meriah secara seremonial, tetapi juga mampu menghadirkan suasana yang lebih sakral, berkarakter, dan menjadi wadah nyata pelestarian budaya Sunda di Kabupaten Bogor (redaksi)












