BOGOR, 29-09-2026 — Aksi unjuk rasa yang berlangsung di depan Kantor DPRD Kabupaten Bogor kini menyisakan pertanyaan besar. Pasalnya, muncul dugaan kuat bahwa para pendemo yang memakai ikat kepala atau lengan berwarna putih bukan bergerak atas kemauan sendiri, melainkan diupah. Ada indikasi kuat adanya penyuapan dan pengaturan dari pihak tertentu yang sengaja menggerakkan massa untuk kepentingan tersembunyi.
Jejak Dugaan Pengaturan & Pembayaran
Berdasarkan informasi yang kami himpun, satu hari sebelum aksi demo berlangsung, seorang oknum wartawan terlihat menemui salah satu pejabat/petinggi yang hingga kini identitasnya masih kami telusuri. Setelah pertemuan itu, oknum tersebut terekam membawa koper berwarna cokelat yang diduga berisi uang, sambil berkata dalam video yang direkam:
“Ada titipan dari Bapak, Alhamdulillah kondusif.”
Tidak berhenti di situ, pembagian uang kepada calon pendemo pun terekam. Uang itu disebut-sebut untuk ongkos ojek, ongkos Grab, dan imbalan kehadiran. Oknum wartawan yang diduga bertindak sebagai koordinator mengingatkan peserta:
“Jangan lupa besok pagi jam 9.”
Ikat Putih: Tanda Massa Sewaan
Fakta bahwa para pendemo seragam memakai tanda pengenal berwarna putih semakin memperkuat dugaan bahwa mereka dikoordinir dan disiapkan secara terstruktur — bukan muncul secara spontan dari keresahan masyarakat. Pola seperti ini mengindikasikan adanya pihak yang membiayai gerakan tersebut, namun tujuannya dirahasiakan.
Desakan Kepada Kepolisian
Kami jajaran media menuntut agar Kepolisian Resor Kabupaten Bogor segera:
1. Mengusut tuntas siapa yang membiayai aksi ini — mulai dari pemberi uang, penerima, hingga pembagi
2. Mengidentifikasi oknum wartawan yang diduga berperan sebagai koordinator dan perantara
3. Menelusuri siapa pejabat/petinggi yang bertemu sehari sebelum demo dan diduga sebagai sumber dana
4. Memproses secara hukum seluruh pihak yang terlibat jika terbukti menggerakkan massa dengan cara menyogok — karena hal ini merusak demokrasi dan menyesatkan kebenaran aspirasi rakyat
Jangan biarkan ruang publik dimainkan dengan uang. Demokrasi bukan soal siapa yang mampu membayar massa, melainkan suara hati nurani rakyat. Kami akan terus mengawal kasus ini sampai terungkap siapa dalang di balik koper cokelat itu.














